I'm blogger

Pages

  • Beranda

Label

  • alkisah (4)
  • aqidah Islam (3)
  • celoteh (3)
  • curhat (4)
  • KECANTIKAN (2)
  • KESEHATAN (6)
  • MOTIVASI (3)
  • remaja (4)
  • tawa-tiwi (8)

Blog Archive

  • ►  2013 (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (7)
    • ►  Desember (6)
    • ►  September (1)
  • ▼  2011 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ▼  November (16)
      • Banyak Tertawa Perlemah Iman
      • Pinjam Korannya dong...
      • Kibas Radikal Bebas dengan Tomat
      • Tiga Orang Syuhada
      • Masuk Neraka karena Lalat
      • Sahabat Terbaik
      • Menghadapi Orang Marah
      • Takut Matematika?!
      • Saling Memberi dan Saling Menerima
      • Ini dia yang lagi turun
      • 10 Langkah Ngadepin Gosip
      • Mengusir BETE di Kelas
      • Jono dan Lono
      • Gambir ooh Gambir
      • Kisah sang Gubernur dan Keponakan
      • Medan vs Jawa Tengah
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (3)

About Me

Foto Saya
maria
anak perempuan terakhir di keluarganya, tenang, pendiam, suka mengalah, jaga pergaulan, memegang teguh iman dan takwa, akibatnya sedikit temannya
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

kotak kontak


ShoutMix chat widget

Arsip Blog

  • ►  2013 (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (7)
    • ►  Desember (6)
    • ►  September (1)
  • ▼  2011 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ▼  November (16)
      • Banyak Tertawa Perlemah Iman
      • Pinjam Korannya dong...
      • Kibas Radikal Bebas dengan Tomat
      • Tiga Orang Syuhada
      • Masuk Neraka karena Lalat
      • Sahabat Terbaik
      • Menghadapi Orang Marah
      • Takut Matematika?!
      • Saling Memberi dan Saling Menerima
      • Ini dia yang lagi turun
      • 10 Langkah Ngadepin Gosip
      • Mengusir BETE di Kelas
      • Jono dan Lono
      • Gambir ooh Gambir
      • Kisah sang Gubernur dan Keponakan
      • Medan vs Jawa Tengah
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (3)

Free Blog Content

Followers

Selasa, 01 November 2011
In: alkisah

Kisah sang Gubernur dan Keponakan

Ketika Iyyadh bin Ghanam diangkat sebagai gubernur oleh Khalifah Umar bin Al-Khattab, datanglah lima orang sanak keluarganya untuk meminta disambungkan tali silaturahmi mereka. Beliaupun menyambut mereka dengan wajah ceria, melayani mereka dan menghormati mereka. Mereka semua tinggal dirumahnya berhari-hari.
Setelah itu mereka mengajaknya berbicara tentang hubungan mereka. Mereka juga mengabarkan berbagai kesulitan yang mereka dapatkan di perjalanan demi keinginan untuk menyambung tali silaturahmi dengan beliau. Dalam hati beliau memahami maksud mereka. Beliau lalu memberikan kepada mereka masing-masing sepuluh dinar. Namun ternyata mereka menolak, bahkan marah dan mencaci beliau.
Beliau lalu berkata, “Wahai keponakan-keponakanku, aku tidak mengingkari hubungan kekerabatan kalian denganku, hak kalian, serta kesulitan kalian di perjalanan. Akan tetapi demi Allah, aku hanya dapat memberikan apa yang kalian terima tadi, itupun dengan menjual budakku dan menjual semua barang yang tak begitu kubutuhkan. Maafkanlah aku.”
Mereka menjawab, “Demi Allah , Allah tidak akan memaafkanmu. Bukankah engkau telah memiliki separuh negeri Syam, tetapi engkau hanya memberi kami uang yang hanya cukup. Itu pun dengan susah payah untuk mengembalikan diri kami masing-masing ke tengah keluarga.”
Beliau balik bertanya, “Apakah kalian menginginkan aku untuk mencuri harta Allah? Demi Allah, bila aku digergaji hingga terbelah, itu lebih aku sukai daripada melakukan korupsi meski hanya sepeser, atau menggunakannya tidak pada tempatnya.”
Mereka menanggapi, “Baiklah, aku memaklumi itu, tapi berilah kami pekerjaan sehingga kami bisa melakukan seperti yang dilakukan orang lain, dan memperoleh gaji sebagaimana yang mereka peroleh.”
Beliau menjawab, “Demi Allah, aku mengetahui keutamaan dan kebaikan kalian. Tetapi bagaimana bila terdengar oleh khalifah Umar bahwa aku mempekerjakan orang-orang dari kerabatku sendiri, bukankah beliau akan mencela diriku?”
Mereka berkata, “Abu Ubaidah juga telah mempekerjakan dirimu, padahal antara engkau dengannya juga ada hubungan kekerabatan, ternyata Umar membolehkan. Bila engkau mempekerjakan kami, pasti beliau juga akan mengijinkan.”
Beliau menjawab, “Akan tetapi di mata Umar aku bukanlah seperti Abu Ubaidah.”
Akhirnya mereka pun pergi dengan kesal.
(majalah Akhlak) 

Diposting oleh maria di 00.49
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 I'm blogger; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog