Jumat, 15 Februari 2013
In:
curhat
Aku Jatuh...
Setelah kira-kira sebulan aku kerja sebagai guru les privat di sebuah bimbingan belajar yang sedang berkembang, aku mendapatkan musibah. Tepatnya hari Senin, malam, pulang dari rumah murid terakhirku malam itu, setelah mampir di hik beli sego kucing, katanya di jalanan dekat waduk cengklik, aku terjatuh dari motor. Aku nggak tau cerita yang sebenarnya gimana. Kok bisa aku jatuh dari motor. Sampai-sampai aku mendapat jahitan beberapa di bibir bawah sebelah kananku. Juga kudapati tangan kananku, tepatnya di pergelangan tangan terperban seraya dilandasi semacam kardus. Mungkin itulah yang orang-orang sebut sebagai 'gips'. Ketika bangun, itulah yang kusadari. Dan aku tengah terbaring di rumah sakit.
Aku cukup sedih dengan keadaanku. Keadaanku ini sudah pasti membebani keluargaku, terutama ayah dan ibuku. Baik beban batin, beban tenaga, maupun beban biaya. Tadinya aku memutuskan untuk bekerja karena agar punya penghasilan sendiri, sehingga bisa meringankan beban orang tua. Tapi, aku malah kecelakaan. Malah menambah beban sendiri.
Ya sudahlah, inilah yang terjadi. Aku harus bisa menerimanya.
Sampai sekarang aku masih belum mengerti, kenapa Allah subhanahu wata'ala menimpakan cobaan ini padaku. Selama ini setiap ada kejadian yang berkesan selalu saja aku segera menerima hikmahnya, sehingga aku merasa senang karena mendapat kejadian itu. Tapi tidak untuk kejadian yang ini. Selama ini aku masih meraba-raba apa hikmah dibaliknya.
Mungkin ini suatu pengingat untukku betapa besar rasa sayang keluargaku padaku. Kakak perempuanku yang ada di Jakarta sana, tepat malam aku terjatuh mengaku merasakan kegelisahan. Seperti telah terjadi sesuatu. Memang benar, telah terjadi sesuatu padaku.
Kemudian adik laki-lakiku, satu-satunya adikku yang selama ini aku merasa kurang begitu dekat dengannya. Tapi di malam aku mendapatkan kecelakaan itu dia mengaku bahwa itu adalah pertama kalinya ia menangis setelah sekian lamanya.
Terutama ayah dan ibuku, tentu saja mereka tak bisa membendung air mata untukku. Melihat kondisiku yang begitu mengerikan, ibuku bahkan menjerit kesakitan. Lebih sakit dari luka-luka yang kurasakan.
Sejauh ini baru itu yang kurasakan. Mungkin masih ada hikmah tersembunyi yang lain.
Kini aku sudah ikhlas dengan kejadian itu, karena itu membuat batinku menjadi selalu merasa harus mendekat dengan illahi.
Aku cukup sedih dengan keadaanku. Keadaanku ini sudah pasti membebani keluargaku, terutama ayah dan ibuku. Baik beban batin, beban tenaga, maupun beban biaya. Tadinya aku memutuskan untuk bekerja karena agar punya penghasilan sendiri, sehingga bisa meringankan beban orang tua. Tapi, aku malah kecelakaan. Malah menambah beban sendiri.
Ya sudahlah, inilah yang terjadi. Aku harus bisa menerimanya.
Sampai sekarang aku masih belum mengerti, kenapa Allah subhanahu wata'ala menimpakan cobaan ini padaku. Selama ini setiap ada kejadian yang berkesan selalu saja aku segera menerima hikmahnya, sehingga aku merasa senang karena mendapat kejadian itu. Tapi tidak untuk kejadian yang ini. Selama ini aku masih meraba-raba apa hikmah dibaliknya.
Mungkin ini suatu pengingat untukku betapa besar rasa sayang keluargaku padaku. Kakak perempuanku yang ada di Jakarta sana, tepat malam aku terjatuh mengaku merasakan kegelisahan. Seperti telah terjadi sesuatu. Memang benar, telah terjadi sesuatu padaku.
Kemudian adik laki-lakiku, satu-satunya adikku yang selama ini aku merasa kurang begitu dekat dengannya. Tapi di malam aku mendapatkan kecelakaan itu dia mengaku bahwa itu adalah pertama kalinya ia menangis setelah sekian lamanya.
Terutama ayah dan ibuku, tentu saja mereka tak bisa membendung air mata untukku. Melihat kondisiku yang begitu mengerikan, ibuku bahkan menjerit kesakitan. Lebih sakit dari luka-luka yang kurasakan.
Sejauh ini baru itu yang kurasakan. Mungkin masih ada hikmah tersembunyi yang lain.
Kini aku sudah ikhlas dengan kejadian itu, karena itu membuat batinku menjadi selalu merasa harus mendekat dengan illahi.
