I'm blogger

Pages

  • Beranda

Label

  • alkisah (4)
  • aqidah Islam (3)
  • celoteh (3)
  • curhat (4)
  • KECANTIKAN (2)
  • KESEHATAN (6)
  • MOTIVASI (3)
  • remaja (4)
  • tawa-tiwi (8)

Blog Archive

  • ►  2013 (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (7)
    • ►  Desember (6)
    • ►  September (1)
  • ▼  2011 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (16)
    • ▼  Oktober (6)
      • Indahnya Makan Bersama
      • Taubat Pembunuh 100 Nyawa
      • Menghilangkan Komedo
      • Orang Tua Tetap Harus Dihormati
      • Paku Amarah
      • Jadi Serba Salah dengan Orang Tua
    • ►  September (3)

About Me

Foto Saya
maria
anak perempuan terakhir di keluarganya, tenang, pendiam, suka mengalah, jaga pergaulan, memegang teguh iman dan takwa, akibatnya sedikit temannya
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

kotak kontak


ShoutMix chat widget

Arsip Blog

  • ►  2013 (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (7)
    • ►  Desember (6)
    • ►  September (1)
  • ▼  2011 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (16)
    • ▼  Oktober (6)
      • Indahnya Makan Bersama
      • Taubat Pembunuh 100 Nyawa
      • Menghilangkan Komedo
      • Orang Tua Tetap Harus Dihormati
      • Paku Amarah
      • Jadi Serba Salah dengan Orang Tua
    • ►  September (3)

Free Blog Content

Followers

Senin, 31 Oktober 2011
In: aqidah Islam

Indahnya Makan Bersama

Makan adalah salah satu perintah Allah SWT. Karena makan merupakan kebutuhan wajib manusia. Tanpa makan manusia bisa mati. 
Setidaknya manusia makan tiga kali sehari. Dalam Islam pun juga sudah ditata bagaiman cara dan adab makan yang baik. Agama Islam juga menyerukan umatnya untuk makan secara bersama-sama. Karena makan bersama memilik banyak keutamaan  dibanding makan secara sendirian.
Dengan makan secara bersama-sama, dapat memperkuat tali silaturahmi antarsesama. Terjalin kekerabatan yang erat di dalamnya. 
Selain itu, melalui makan bersama kita bisa saling menghargai dan menghormati antarsesama. Contohnya, jika ada salah satu anggota yang belum hadir di meja makan, pasti acara makan belum akan dimulai. Pasti kita akan menunggu si yang belum hadir tersebut.
Makan bersama juga akan membangkitkan selera makan. Banyak juga di sekitar kita yang kurang bersemangat untuk makan. Apalagi pada momen makan sahur di bulan Ramadhan. Jika hanya makan sendirian pasti akan merasa malas. Beda kalau makan secara bersama-sama. Ada nuansa suka-dukanya membangunkan kerabat kita dari tidurnya. Rupanya bulan Ramadhan memang menjadi momen yang tepat untuk menegakkan makan bersama.
Dalam makan bersama ada tata cara dan adab yang sudah diatur dalam Islam. Antara lain sebagai berikut:
  • Menempatkan orang yang lebih tua atau dituakan di sebelah kanan. Ini merupakan wujud penghormatan untuknya. Karena kita tahu bahwa sisi yang paling kanan adalah sisi yang dianggap baik.
  • Menjadikan orang yang dituakan sebagai pemimpin dalam acara makan bersama. Yang dimaksudkan disini adalah orang yang paling tua yang memulai dan mengakhiri makan. Jadi, kita tidak boleh makan sebelum yang paling tua memulai dan kita tidak boleh masih makan ketika yang paling tua sudah mengakhiri makannya. Ini juga  merupakan wujud penghormatan kepada orang yang dituakan.
  • Makanlah makanan yang ada di depan kita. Jangan sampai tangan kita meraih makanan lain yang berada agak jauh dari kita, sampai-sampai tangan ini lurus. Ini sungguh tidak dibenarkan menurut pandangan Islam. Kalaupun kita hendak makan makanan yang berada agak jauh, mintalah seseorang untuk mengambilkannya untuk kita. Ini akan lebih sopan.
  • Jangan langsung mencela makanan. Ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh kita. Jika makanan yang kita santap tidak sesuai dengan selera kita, kita biasa langsung mencelanya. Padahal hal ini sangat tidak diperbolehkan oleh Islam. Karena semua makanan di bumi adalah karunia Allah. Jika kita mencelanya, itu sama saja kita mencela karunia Allah. Kita sama saja tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

Diposting oleh maria di 22.54 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Taubat Pembunuh 100 Nyawa

Dahulu pada masa sebelum diutusnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam, ada seorang laki-laki yang terkenal dengan kekejamannya membunuh orang. Suatu saat ia bertanya kepada orang-orang, dimana ia bisa menemukan orang yang paling alim di muka bumi. Maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (pendeta bani Israil). Ia pun mendatangi rahib yang dimaksud seraya berkata, “Sesungguhnya jika seseorang telah membunuh 99 nyawa, apakah masih ada jalan baginya untuk bertaubat?”
Rahib pun menjawab tegas, “Tidak!”
Maka rahib itu pun dibunuhnya sekalian sehingga genap 100 nyawa yang telah dibunuh.
Kemudian ia kembali bertanya kepada orang-orang, dimana ia bisa menemukan orang yang paling alim di muka bumi. Maka ia ditunjukkan kepada seorang alim. Ia pun bertanya sebagaimana pertanyaan kepada orang alim sebelumnya. “Sesungguhnya jika seseorang telah membunuh 100 nyawa, apakah masih ada jalan baginya untuk bertaubat?”
Orang alim itu pun menjawab,  “Ya. Siapakah yang akan menghalangi dia dengan taubat? Pergilah ke tempat ini dan ini karena disana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah., maka sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke tempatmu semula karena tempatmu semula adalah tempat yang jelek.”
Maka laki-laki itu menuju tempat yang ditunjukkan orang  alim tersebut. Namun ketika ia tengah berada dalam perjalanan, maut menjemputnya. Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat adzab ketika akan mengambil ruhnya.
Malaikat rahmat berkata, “Orang ini datang dalam keadaan bertaubat, menghadap dengan sepenuh hatinya kepada Allah.”
Malaikat adzab berkata, “Sesungguhnya orang ini belum pernah melakukan amal kebaikan sediktpun.”
Maka datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia yang menengahi perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat ini berkata, “Ukurlah dari sini jarak kedua tempat tersebut (yaitu tempat jelek yang ia tinggalkan dan tempat baik yang akan ia tuju). Mana jaraknya yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”
Lalu mereka pun mengukur jarak antar tempat matinya laki-laki itu ke tempat yang jelek, dan jarak tempat itu ke tempat yang baik. Ternyata jarak ke tempat baik yang akan dituju sejengkal lebih dekat, sehingga ruh laki-laki itu akhirnya dicabut dan dibawa oleh malaikat rahmat.

(majalah Akhlak)

Diposting oleh maria di 22.42 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Selasa, 25 Oktober 2011
In: KECANTIKAN

Menghilangkan Komedo

Komedo merupakan hal yang termasuk dibenci kaum hawa. Karena itu adalah kotoran penyumbat pori-pori yang berbentuk kecil-kecil berwarna hitam atau putih. Biasanya menyerang daerah di sekitar hidung, dahi, dan dagu. Terkadang komedo juga menyerang daerah di bawah mata dan pipi. Tentu saja komedo sangat mengganggu wajah. Wajah yang halus dan putih pun jika ada komedo bertengger padanya, maka akan kelihatan jelek. Untuk itulah, penulis akan memberikan tips mengangkat komedo yang baik. tips ini disadur dari sebuah artikel pada http://www.untukku.com
1. Gunakan Putih Telur
    Ambil sedikit putih telur, tempatkan di wadah, kocok hingga berbusa. Oleskan di sekitar hidung atau             bagian wajah yang berkomedo. Tutup dengan tisu. Biarkan hingga benar-benar kering. Lepaskan tisu             secara perlahan. Di bagian dalam tisu, akan terlihat bintik-bintik komedo yang terangkat.
2. Scrub Sayur dan Masker Kacang
    a.Blender selembar daun kailan, selembar daun seledri, ¼ buah apel, campur dengan perasan jeruk lemon.        Usapkan dan pijat lembut wajah dengan scrub sayur ini, lalu bilas.
    b.Uapi wajah dengan air panas yang telah diberi 1 sdm garam. Biarkan 10 menit. Uap air garam akan                membuka pori-pori, memperlebar pembuluh darah kapiler di bawah kulit dan memperlancar peredarah       darah ke kulit.
    c.Campur sari kacang kedelai dan kacang polong, gunakan sebagai masker, diamkan 30 menit, bilas.                Gunakan beberapa kali.

Diposting oleh maria di 00.14 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Selasa, 11 Oktober 2011
In: celoteh

Orang Tua Tetap Harus Dihormati

Sebelumnya, aku pernah menuliskan uneg-unegku tentang marah dengan orang tua. Aku menuntut agar lebih diperbanyak juga ceramah untuk orang-orang tua dalam bersikap yang baik di rumah. Bukan hanya ceramah unutk si anak aja agar selalu menghormati orang tua. Yang kumaksudkan orang tua disini adalah ayah dan ibu kita. Sering kan ayah atau ibu kita melakukan sesuatu yang membuat kita marah? Lalu apa yang kita lakukan? Apakah kita memarahi mereka? Karena terkadang emosi ini tidak bisa dikontrol dengan baik. Seperti yang kulakukan beberapa waktu lalu. Aku pernah marah-marah dengan ayahku, masalahnya sepele. Karena ayahku tidak memahami sulitnya aku menyelesaikan sebuah tugas dari guru. Tugas membuat report, yang memaksaku sampai empat kali ngeprint. Tentu aja itu membuatku banyak mengeluarkan uang. Akhirnya aku menuntut ganti, tapi dengan cara yang tidak tepat. Aku akui itu. Walaupun menyebalkan sekali ketika ayahku mencibirku 'kerjaanmu dolanan komputer ae!'. Aku marah lah, ayahku nggak tau sulitnya aku mengerjakan tugas report itu. Akhirnya aku marah-marah dan minta ganti uang. Padahal aku tau saat itu ayahku sedang dalam kondisi yang kurang sehat. Pasca mengeluarkan kata-kata pedas pada ayahku aku menutup pintu kamar dengan keras. Saat itu lokasinya aku sedang berada di kamar. Aku keluar kamar sambil berkaca-kaca. Terlebih saat ibuku angkat bicara, "kok marah-marah gitu?"
Aku jadi menangis. Menagnis sejadi-jadinya. Timbul penyesalan di hatiku. Timbul rasa bersalah di hatiku. Aku hanya menambah beban ayahku saja. Ayahku sedang sakit, tapi aku malah marah-marah padanya.  Setelah meresapi kekhilafanku dan menganis sepuas-puasnya aku kembali ke kamar. Ayahku sudah keluar dari kamar. Ibuku lalu menghampiriku dan memberikan sejumlah uang yang kutuntut sebagai ganti mengerjakan tugas. Melihat itu air mataku mengalir lagi. Aku menjadi semakin merasa bersalah. Aku berusaha meminta maaf pada ibuku. Tapi aku belum berani meminta maaf pada ayahku. Hanya dal penyesalan dan permintaan maaf dalam hatiku. Aku baru sadar, disaat menyebalkan orang tua tetaplah harus dihormati. Maafkan aku ayah, maafkan aku ibu....

Diposting oleh maria di 01.15 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Selasa, 04 Oktober 2011
In: MOTIVASI

Paku Amarah

Ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah si anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada si anak untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali ia marah.
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap, jumlah itu berkurang. Dia mulai menyadari bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah saat dimana anak tersebut merasa mampu mengendalikan amarhnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari yang tidal dilaluinya dengan amarah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lallu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Sama halnya ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti lubang-lubang ini di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah lebih sulit sembuh daripada luka fisik."
Anak itu hanya tertunduk dan amkin menyadari bahwa kemarahan tak terkendali adalah perbuatan bodoh yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Diposting oleh maria di 23.48 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Jadi Serba Salah dengan Orang Tua

Orang tua adalah dua orang yang sangat penting di kehidupan kita. Mereka yang menyebabkan kita ada di dunia ini. Sehingga kita patut menghormati mereka, bahkan dalam posisi apapun. Itulah kata-kata yang sangat sering kudengar dari orang-orang bijak. Iya, aku setuju. Sebagai anak, aku harus menghormati orang tua dalam keadaan apapun dan bagaimanapun orang tua kita. Karena itu sebagai bukti bahwa aku bukanlah anak durhaka. Tapi, orang tua tetaplah manusia. Mereka punya hawa dan nafsu yang bisa berubah sewaktu-waktu. jadi, kalo orang tua melakukan kesalahan apakah kita juga tetap harus menghormatinya? Apalagi kesalahan yang dibuat itu berkenaan dengan kita, bahkan merugikan kita. Contohnya orang tuaku, mereka sering melakukan hal yang membuatku marah, seperti meludah di sembarang tempat. Itu kan menjijikkan sekali. Terkadang aku membentak mereka, tapi terkadang aku diam saja. Tapi tetap aja dalam hati aku tuh njrundel banget. Istilah lainnya, aku tuh mangkel banget. Kayak nggak puas gitu kalo nggak bentak-bentak mereka. Sebagai anak yang bisa dikatakan cukup baik, aku juga masih suka pikir-pikir untuk marah sama orang tua. Tapi ya itu tadi, mangkel banget di hati. Aku sering dapat ceramah. kita harus menghormati orang tua dalam keadaan apapun, sekalipun mereka berbuat salah. Sebesar apapun kesalahan orang tua, mereka tetaplah ayah dan ibu kita. Jadi, seolah-olah perkataan si penceramah itu menegurku agar tidak marah dengan orang tua apalagi membentak-bentak. Iya, saat mendengar ceramah itu aku jadi sadar. Benar juga ya, Astaghfirullahal'adzim. Kataku dalam hati. Tapi nyampe di rumah dan ngliat ayah ato ibuku melakukan hal yang nggak aku senengin banget, kumat deh. Aku jadi marah-marah ama mereka. Aku jadi protes, kenapa sih ceramah-ceramah itu kebanyakan menegur anak yang suka marah sama ortu? Kenapa tidak ada ceramah yang menegur orang tua agar tidak semena-mena di rumah? Tidak ada ceramah yang membicarakan bagaimana bersikap yang baik sebagai orang tua? Tidak ada ceramah yang menyadarkan orang tua agar menghargai anak? Sebenarnya ini yang perlu direnungkan. Jangan hanya menyalahkan anak yang suka marah ama orang tua yang melakukan kesalahan aja, tapi juga sadarkan orang tua agar bisa meminimalisir kesalahan agar tidak memancing emosi anak. Anak kan juga manusia, punya hawa dan nafsu. Jadi sewaktu-waktu bisa marah-marah.

Diposting oleh maria di 23.26 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Komentar (Atom)
@ 2011 I'm blogger; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog