Selasa, 11 Oktober 2011
In:
celoteh
Orang Tua Tetap Harus Dihormati
Sebelumnya, aku pernah menuliskan uneg-unegku tentang marah dengan orang tua. Aku menuntut agar lebih diperbanyak juga ceramah untuk orang-orang tua dalam bersikap yang baik di rumah. Bukan hanya ceramah unutk si anak aja agar selalu menghormati orang tua. Yang kumaksudkan orang tua disini adalah ayah dan ibu kita. Sering kan ayah atau ibu kita melakukan sesuatu yang membuat kita marah? Lalu apa yang kita lakukan? Apakah kita memarahi mereka? Karena terkadang emosi ini tidak bisa dikontrol dengan baik. Seperti yang kulakukan beberapa waktu lalu. Aku pernah marah-marah dengan ayahku, masalahnya sepele. Karena ayahku tidak memahami sulitnya aku menyelesaikan sebuah tugas dari guru. Tugas membuat report, yang memaksaku sampai empat kali ngeprint. Tentu aja itu membuatku banyak mengeluarkan uang. Akhirnya aku menuntut ganti, tapi dengan cara yang tidak tepat. Aku akui itu. Walaupun menyebalkan sekali ketika ayahku mencibirku 'kerjaanmu dolanan komputer ae!'. Aku marah lah, ayahku nggak tau sulitnya aku mengerjakan tugas report itu. Akhirnya aku marah-marah dan minta ganti uang. Padahal aku tau saat itu ayahku sedang dalam kondisi yang kurang sehat. Pasca mengeluarkan kata-kata pedas pada ayahku aku menutup pintu kamar dengan keras. Saat itu lokasinya aku sedang berada di kamar. Aku keluar kamar sambil berkaca-kaca. Terlebih saat ibuku angkat bicara, "kok marah-marah gitu?"Aku jadi menangis. Menagnis sejadi-jadinya. Timbul penyesalan di hatiku. Timbul rasa bersalah di hatiku. Aku hanya menambah beban ayahku saja. Ayahku sedang sakit, tapi aku malah marah-marah padanya. Setelah meresapi kekhilafanku dan menganis sepuas-puasnya aku kembali ke kamar. Ayahku sudah keluar dari kamar. Ibuku lalu menghampiriku dan memberikan sejumlah uang yang kutuntut sebagai ganti mengerjakan tugas. Melihat itu air mataku mengalir lagi. Aku menjadi semakin merasa bersalah. Aku berusaha meminta maaf pada ibuku. Tapi aku belum berani meminta maaf pada ayahku. Hanya dal penyesalan dan permintaan maaf dalam hatiku. Aku baru sadar, disaat menyebalkan orang tua tetaplah harus dihormati. Maafkan aku ayah, maafkan aku ibu....
Selasa, 04 Oktober 2011
In:
MOTIVASI
Paku Amarah
Ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah si anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada si anak untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali ia marah.
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap, jumlah itu berkurang. Dia mulai menyadari bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah saat dimana anak tersebut merasa mampu mengendalikan amarhnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari yang tidal dilaluinya dengan amarah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lallu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Sama halnya ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti lubang-lubang ini di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah lebih sulit sembuh daripada luka fisik."
Anak itu hanya tertunduk dan amkin menyadari bahwa kemarahan tak terkendali adalah perbuatan bodoh yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap, jumlah itu berkurang. Dia mulai menyadari bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah saat dimana anak tersebut merasa mampu mengendalikan amarhnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari yang tidal dilaluinya dengan amarah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lallu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Sama halnya ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti lubang-lubang ini di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah lebih sulit sembuh daripada luka fisik."
Anak itu hanya tertunduk dan amkin menyadari bahwa kemarahan tak terkendali adalah perbuatan bodoh yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Jadi Serba Salah dengan Orang Tua
Orang tua adalah dua orang yang sangat penting di kehidupan kita. Mereka yang menyebabkan kita ada di dunia ini. Sehingga kita patut menghormati mereka, bahkan dalam posisi apapun. Itulah kata-kata yang sangat sering kudengar dari orang-orang bijak. Iya, aku setuju. Sebagai anak, aku harus menghormati orang tua dalam keadaan apapun dan bagaimanapun orang tua kita. Karena itu sebagai bukti bahwa aku bukanlah anak durhaka. Tapi, orang tua tetaplah manusia. Mereka punya hawa dan nafsu yang bisa berubah sewaktu-waktu. jadi, kalo orang tua melakukan kesalahan apakah kita juga tetap harus menghormatinya? Apalagi kesalahan yang dibuat itu berkenaan dengan kita, bahkan merugikan kita. Contohnya orang tuaku, mereka sering melakukan hal yang membuatku marah, seperti meludah di sembarang tempat. Itu kan menjijikkan sekali. Terkadang aku membentak mereka, tapi terkadang aku diam saja. Tapi tetap aja dalam hati aku tuh njrundel banget. Istilah lainnya, aku tuh mangkel banget. Kayak nggak puas gitu kalo nggak bentak-bentak mereka. Sebagai anak yang bisa dikatakan cukup baik, aku juga masih suka pikir-pikir untuk marah sama orang tua. Tapi ya itu tadi, mangkel banget di hati. Aku sering dapat ceramah. kita harus menghormati orang tua dalam keadaan apapun, sekalipun mereka berbuat salah. Sebesar apapun kesalahan orang tua, mereka tetaplah ayah dan ibu kita. Jadi, seolah-olah perkataan si penceramah itu menegurku agar tidak marah dengan orang tua apalagi membentak-bentak. Iya, saat mendengar ceramah itu aku jadi sadar. Benar juga ya, Astaghfirullahal'adzim. Kataku dalam hati. Tapi nyampe di rumah dan ngliat ayah ato ibuku melakukan hal yang nggak aku senengin banget, kumat deh. Aku jadi marah-marah ama mereka. Aku jadi protes, kenapa sih ceramah-ceramah itu kebanyakan menegur anak yang suka marah sama ortu? Kenapa tidak ada ceramah yang menegur orang tua agar tidak semena-mena di rumah? Tidak ada ceramah yang membicarakan bagaimana bersikap yang baik sebagai orang tua? Tidak ada ceramah yang menyadarkan orang tua agar menghargai anak? Sebenarnya ini yang perlu direnungkan. Jangan hanya menyalahkan anak yang suka marah ama orang tua yang melakukan kesalahan aja, tapi juga sadarkan orang tua agar bisa meminimalisir kesalahan agar tidak memancing emosi anak. Anak kan juga manusia, punya hawa dan nafsu. Jadi sewaktu-waktu bisa marah-marah.


