Senin, 31 Oktober 2011
In:
alkisah
Taubat Pembunuh 100 Nyawa
Dahulu pada masa sebelum diutusnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam, ada seorang laki-laki yang terkenal dengan kekejamannya membunuh orang. Suatu saat ia bertanya kepada orang-orang, dimana ia bisa menemukan orang yang paling alim di muka bumi. Maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (pendeta bani Israil). Ia pun mendatangi rahib yang dimaksud seraya berkata, “Sesungguhnya jika seseorang telah membunuh 99 nyawa, apakah masih ada jalan baginya untuk bertaubat?”
Rahib pun menjawab tegas, “Tidak!”
Maka rahib itu pun dibunuhnya sekalian sehingga genap 100 nyawa yang telah dibunuh.
Kemudian ia kembali bertanya kepada orang-orang, dimana ia bisa menemukan orang yang paling alim di muka bumi. Maka ia ditunjukkan kepada seorang alim. Ia pun bertanya sebagaimana pertanyaan kepada orang alim sebelumnya. “Sesungguhnya jika seseorang telah membunuh 100 nyawa, apakah masih ada jalan baginya untuk bertaubat?”
Orang alim itu pun menjawab, “Ya. Siapakah yang akan menghalangi dia dengan taubat? Pergilah ke tempat ini dan ini karena disana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah., maka sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke tempatmu semula karena tempatmu semula adalah tempat yang jelek.”
Maka laki-laki itu menuju tempat yang ditunjukkan orang alim tersebut. Namun ketika ia tengah berada dalam perjalanan, maut menjemputnya. Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat adzab ketika akan mengambil ruhnya.
Malaikat rahmat berkata, “Orang ini datang dalam keadaan bertaubat, menghadap dengan sepenuh hatinya kepada Allah.”
Malaikat adzab berkata, “Sesungguhnya orang ini belum pernah melakukan amal kebaikan sediktpun.”
Maka datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia yang menengahi perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat ini berkata, “Ukurlah dari sini jarak kedua tempat tersebut (yaitu tempat jelek yang ia tinggalkan dan tempat baik yang akan ia tuju). Mana jaraknya yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”
Lalu mereka pun mengukur jarak antar tempat matinya laki-laki itu ke tempat yang jelek, dan jarak tempat itu ke tempat yang baik. Ternyata jarak ke tempat baik yang akan dituju sejengkal lebih dekat, sehingga ruh laki-laki itu akhirnya dicabut dan dibawa oleh malaikat rahmat.
(majalah Akhlak)
(majalah Akhlak)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar