I'm blogger

Pages

  • Beranda

Label

  • alkisah (4)
  • aqidah Islam (3)
  • celoteh (3)
  • curhat (4)
  • KECANTIKAN (2)
  • KESEHATAN (6)
  • MOTIVASI (3)
  • remaja (4)
  • tawa-tiwi (8)

Blog Archive

  • ►  2013 (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (7)
    • ►  Desember (6)
    • ►  September (1)
  • ▼  2011 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (16)
    • ▼  Oktober (6)
      • Indahnya Makan Bersama
      • Taubat Pembunuh 100 Nyawa
      • Menghilangkan Komedo
      • Orang Tua Tetap Harus Dihormati
      • Paku Amarah
      • Jadi Serba Salah dengan Orang Tua
    • ►  September (3)

About Me

Foto Saya
maria
anak perempuan terakhir di keluarganya, tenang, pendiam, suka mengalah, jaga pergaulan, memegang teguh iman dan takwa, akibatnya sedikit temannya
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

kotak kontak


ShoutMix chat widget

Arsip Blog

  • ►  2013 (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2012 (7)
    • ►  Desember (6)
    • ►  September (1)
  • ▼  2011 (26)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (16)
    • ▼  Oktober (6)
      • Indahnya Makan Bersama
      • Taubat Pembunuh 100 Nyawa
      • Menghilangkan Komedo
      • Orang Tua Tetap Harus Dihormati
      • Paku Amarah
      • Jadi Serba Salah dengan Orang Tua
    • ►  September (3)

Free Blog Content

Followers

Selasa, 04 Oktober 2011
In: MOTIVASI

Paku Amarah

Ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah si anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada si anak untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali ia marah.
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap, jumlah itu berkurang. Dia mulai menyadari bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah saat dimana anak tersebut merasa mampu mengendalikan amarhnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari yang tidal dilaluinya dengan amarah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lallu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Sama halnya ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti lubang-lubang ini di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah lebih sulit sembuh daripada luka fisik."
Anak itu hanya tertunduk dan amkin menyadari bahwa kemarahan tak terkendali adalah perbuatan bodoh yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Diposting oleh maria di 23.48
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 I'm blogger; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog