Selasa, 04 Oktober 2011
In:
MOTIVASI
Paku Amarah
Ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah si anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada si anak untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali ia marah.
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap, jumlah itu berkurang. Dia mulai menyadari bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah saat dimana anak tersebut merasa mampu mengendalikan amarhnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari yang tidal dilaluinya dengan amarah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lallu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Sama halnya ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti lubang-lubang ini di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah lebih sulit sembuh daripada luka fisik."
Anak itu hanya tertunduk dan amkin menyadari bahwa kemarahan tak terkendali adalah perbuatan bodoh yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah. Lalu secara bertahap, jumlah itu berkurang. Dia mulai menyadari bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah saat dimana anak tersebut merasa mampu mengendalikan amarhnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari yang tidal dilaluinya dengan amarah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lallu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Sama halnya ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu akan meninggalkan bekas seperti lubang-lubang ini di hati orang lain.
Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah lebih sulit sembuh daripada luka fisik."
Anak itu hanya tertunduk dan amkin menyadari bahwa kemarahan tak terkendali adalah perbuatan bodoh yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar