Senin, 03 Desember 2012
In:
curhat
Astaghfirullohal'adzim....
Aku nulis ini sebagai lanjutan dari curhatku tentang hari pertama kerja. Sebelumnya udah ku jelasin kan kalo di hari pertama kerja ini aku cuma mengamati proses belajar aja. Kebanyakan murid yang ada beragama nonislam. Bahkan atasan aku alias yang punya bimbel itu agamanya juga nonislam. Kita berangkat mulai jam 3 kurang dikit lah. Setelah jam 4, aku mulai khawatir. Duh, salatku gimana nih? Soalnya setelah ini nanti bakal lanjut ngelesi lagi sampai maghrib malah.
Aku tau atasanku ngga bisa membantuku, karna dia berbeda agama. Jadi nggak kepikiran sama sekali untuk salat.
Sekitar pukul 5, aku sampai di rumah seorang murid laki-laki. Dia manis, berkacamata, pasti pinter. Aku cuma melihat dan menyaksikan ajang les itu. Namun dalam hati tengah berkecamuk perang, meratapi salatku yang hampir terabaikan.
Nggak ada niat sedikit pun dalam hatiku untuk membiarkan Asharku tertinggal. Aku memutar otak untuk memikirkan apa yang bisa kulakukan untuk dapat melaksanakan salat.
Tiba-tiba aku memberanikan diri untuk membagikan kerisauanku pada atasanku yang tengah mengajar murid nonislam itu. Ia langsung mengerti ternyata. Dia menanyakan bagaimana dan dimana aku salat? Aku menjawab cukup pinjam semacam sarung atau selimut pada ke;uarga ini untuk menutup aurat bawahku, kan aku udah pake jilbab jadi itu udah cukup. Tapi atasanku menyarankan supaya pergi ke masjid aja, nggak jauh kok dari rumah itu.
Akhirnya aku buru-buru menyambangi masjid yang dimaksud atasanku. Walaupun saat itu jam sudah menunjukkan pukul lima lebih, hampir tengah enam, aku yakin salat yang kuperjuangkan ini akan mendapat penilaian dari Allah SWT. Entahlah, Dia akan menilaiku sebagai ibadah atau nggak. Tapi yang jelas aku sudah sangat berusaha untuk tetap melaksanakannya.
Aku langsung perbanyak Istighfar dan menanamkan komitmen pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi.
Karena waktunya sudah mepet waktu salat Maghrib, aku pun melanjutkan salat Maghrib sekalian. Baru deh aku balik lagi ke tempat atasanku berada.
Sungguh, hari pertama kerjaku ini menjadi hari yang sangat berkesan.
Aku tau atasanku ngga bisa membantuku, karna dia berbeda agama. Jadi nggak kepikiran sama sekali untuk salat.
Sekitar pukul 5, aku sampai di rumah seorang murid laki-laki. Dia manis, berkacamata, pasti pinter. Aku cuma melihat dan menyaksikan ajang les itu. Namun dalam hati tengah berkecamuk perang, meratapi salatku yang hampir terabaikan.
Nggak ada niat sedikit pun dalam hatiku untuk membiarkan Asharku tertinggal. Aku memutar otak untuk memikirkan apa yang bisa kulakukan untuk dapat melaksanakan salat.
Tiba-tiba aku memberanikan diri untuk membagikan kerisauanku pada atasanku yang tengah mengajar murid nonislam itu. Ia langsung mengerti ternyata. Dia menanyakan bagaimana dan dimana aku salat? Aku menjawab cukup pinjam semacam sarung atau selimut pada ke;uarga ini untuk menutup aurat bawahku, kan aku udah pake jilbab jadi itu udah cukup. Tapi atasanku menyarankan supaya pergi ke masjid aja, nggak jauh kok dari rumah itu.
Akhirnya aku buru-buru menyambangi masjid yang dimaksud atasanku. Walaupun saat itu jam sudah menunjukkan pukul lima lebih, hampir tengah enam, aku yakin salat yang kuperjuangkan ini akan mendapat penilaian dari Allah SWT. Entahlah, Dia akan menilaiku sebagai ibadah atau nggak. Tapi yang jelas aku sudah sangat berusaha untuk tetap melaksanakannya.
Aku langsung perbanyak Istighfar dan menanamkan komitmen pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi.
Karena waktunya sudah mepet waktu salat Maghrib, aku pun melanjutkan salat Maghrib sekalian. Baru deh aku balik lagi ke tempat atasanku berada.
Sungguh, hari pertama kerjaku ini menjadi hari yang sangat berkesan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar